Diajak Calon Suami Menolak, Diperkosa Pak Tua Pasrah

Cerita Seks Dewasa Diperkosa Pak Tua Pasrah

Anissa Wibisono merasakan kegembiraan yang meluap-luap seakan meledak di dalam dadanya. Tunangannya, Dodit Darmawan masih berada di belakang setir mobil saat Toyota Avanza hitam yang mereka naiki mulai memasuki jalan menuju komplek perumahan yang cukup terkenal di daerah pinggiran kota. Pepohonan yang rindang dan sejuk menyambut mobil yang menggelinding dengan lembut di jalan yang sepi. Anissa melirik ke arah Dodit dan mencubit paha tunangannya dengan genit. Dodit melirik ke arah Anissa dan tersenyum penuh rasa sayang. Dodit sebenarnya agak ragu berkunjung ke rumah kakak Anissa, karena mereka belum terlalu akrab sehingga dia khawatir kunjungannya akan mengganggu kegiatan keluarga Mas Hendra. Tapi karena Mas Hendra ditunjuk sebagai calon wali dari Anissa kelak di pernikahan mereka, Dodit mau tidak mau harus mengakrabkan diri dengan Mas Hendra dan Mbak Alya, dalam hatinya yang paling dalam Dodit berpikir mungkin akan jauh lebih mudah mendekati putri kecil mereka, Opi.

Baru beberapa bulan bertunangan setelah hampir dua tahun pacaran membuat pasangan Anissa dan Dodit kembali hot. Dodit yang juga senior Anissa di kampus sudah lulus tahun lalu dan sekarang magang di sebuah perusahaan swasta. Tahun ini Anissa juga dipastikan akan lulus dan pernikahan yang sudah mereka nanti-nantikan akan segera menjadi kenyataan. Anissa sangat mengagumi Dodit dan bisa berkunjung ke rumah Mas Hendra dan Mbak Alya bersama tunangannya tercinta sudah menjadi keinginannya sejak lama. Karena kesibukannya, Mas Hendra sempat menengok rumah lama. Atas perintah ibunya, Anissa dan Dodit diminta berkunjung dan menginap selama akhir pekan di rumah Hendra agar mereka bisa lebih akrab. Dodit sedikit grogi, walaupun sudah bertunangan dengan Anissa, dia masih grogi kalau disuruh bertemu dengan keluarganya, apalagi weekend ini mereka berdua diminta menginap di rumah Mas Hendra. Berulang kali Dodit melirik ke arah spion untuk memperhatikan penampilannya.

 “Kamu ganteng kok, sayang.” Kata Anissa sambil membenahi make-upnya sendiri. “Tampan, seperti biasa.”

Wajah Dodit memang cukup lumayan, dia pantas bersanding dengan Anissa yang cantik dan menggairahkan. Walaupun masih muda dan tidak memiliki perawatan khusus, tapi tubuh Anissa benar-benar indah dan menggiurkan. Didukung wajah cantik melankolis, kulit putih mulus, buah dada menggunung dan rambut panjang sepunggung, penampilan gadis ini sangat sempurna.

Dodit tertawa mendengar sindiran Anissa. “Ah, kamu ini. Aku kan grogi, say. Ini pertama kali aku menginap di tempat Mas Hendra. Aku harus tampil serapi mungkin. Takut tidak direstui nantinya…”

Anissa tersenyum manis dan dengan rasa sayang membelai rambut Dodit. “Jangan khawatir, sayang. Mas Hendra dan Mbak Alya pasti akan menyukaimu. Mudah-mudahan kamu juga bisa menyukai mereka.”

“Ah, sudah jelas aku menyukai mereka. Kakakmu orangnya baik hati walaupun sedikit pendiam. Mbak Alya apalagi, sangat ramah dan baik hati, cantik pula. Tapi menurutku yang paling enak diajak ngobrol sebenarnya si Opi. Aku sudah kangen ingin menemuinya.” Dodit merapikan kemejanya yang berkerut.

Anissa tertawa. “Opi memang lucu, menggemaskan sekali. Aku juga sudah kangen.”

“Tapi dengar-dengar, lokasi komplek perumahan ini cukup seram lho. Aku dengar dari beberapa orang teman, katanya di tempat ini banyak setannya. Kalau tidak tahan, boleh tidur seranjang denganku nanti malam.” Kata Dodit dengan sengaja menakut-nakuti tunangannya yang cantik jelita ketika mobil mereka melaju melewati sebuah komplek pemakaman, dan tentunya hanya candaan gurau semata.

“Ha ha! Dasar otak mesum! Aku tidak mudah kau takut-takuti seperti itu!” Anissa tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Dodit.

“Biarpun ada suster ngesot dan hantu jeruk purut, aku punya pahlawan perkasa di sampingku!” Dengan manja gadis itu menggelayut di samping Dodit.

Dodit tersenyum sipu, wajahnya memerah tapi dia meneruskan godaannya, “Kalau tidak salah dengar pula, informasi ini berasal dari sumber yang bisa dipercaya lho, kabarnya ada hantu cabul yang hobi memangsa anak perawan orang!”

Dengan manja Anissa memukuli pundak tunangannya. “Udah ah! Bercandanya nggak asyik! Mas Dodit jahat! Aku nanti nggak bisa tidur!”

“Kamu kan masih perawan, say. Kalau aku jadi kamu… hmmm…” Dodit tersenyum sok ngeri.

"Aku akan lebih berhati-hati nanti malam… lebih baik aku tidur minta ditemani Mbak Alya atau…" Manja Anissa.

"Atau minta ditemani sama Mas Dodit tersayang! Ha ha ha!" Potong Dodit.

Anissa mencibir dan menjulurkan lidah, wajahnya yang malu memerah, makin manis saja gadis ini. “Huh, itu kan maunya Mas Dodit! Dasar otak mesum!”



Entah kenapa, ada angin dingin yang bersemilir di udara dan menghembuskan udara dingin di tengkuk Anissa dan Dodit. Perasaan mereka menjadi tidak enak, seakan suatu hal yang buruk akan segera terjadi. Tiba-tiba saja Dodit menghentikan mobilnya. Dia mengedip ke arah Anissa.

“Kau tahu tidak, say. Kau terlihat sangat mempesona.”

Dodit menghentikan mobil tidak begitu jauh dari gerbang utama komplek perumahan kakak kandung Anissa. Tunangannya yang lugu itu terheran-heran.

“Lho? Kok berhenti, mas? Apa ada yang salah?” Tanya Anissa.

Dodit tersenyum. “Tidak ada yang salah. Kamu manis sekali, say. Manis dan seksi.”

Dodit menggeser posisinya duduk agar bisa sedikit mendekati Anissa. Gadis itu langsung bisa melihat perubahan ukuran gundukan di selangkangan Dodit. Tangan Dodit membawa jari-jemari Anissa ke arah gundukan itu. Sembari dibimbing oleh Dodit, tangan Anissa mengelus kemaluan tunangannya yang makin lama makin membesar di balik celana. Tangan Dodit sendiri tidak diam begitu saja. Dia mengelus seluruh tubuh Anissa dari atas sampai ke bawah. Dengan berani Dodit menciumi wajah dan leher sang kekasih.

“Mas Dodit, jangan mas. Apa yang mas lakukan?” Tanya Anissa sambil merem melek, walaupun sepertinya menolak, tapi gadis cantik itu cukup menikmati serangan tangan dan banjir ciuman dari Dodit.

Dengan penuh semangat Dodit meremas-remas buah dada Anissa yang montok dan menggemaskan. Anissa berusaha mendorong Dodit menjauh tapi tunangannya itu jelas lebih kuat. Anissa melenguh keenakan saat Dodit mengecup dan melesakkan tangannya ke balik baju yang dikenakan Anissa. Tangan Dodit kian merajalela di balik baju yang dikenakan gadis cantik itu. Dengan nekat tanpa takut ketahuan orang yang kebetulan lewat, Dodit menyelipkan tangan ke balik BH Anissa yang masih dikenakannya dan memainkan pentilnya dengan memilin dan meremas gumpalan dagingnya yang indah. Berulang kali Anissa melenguh. Baju Anissa terbuka dan BH-nya terangkat naik. Dodit makin leluasa menikmati bagian dada dari Anissa yang memang besar dan indah itu. Makin lama makin tidak kuatlah Dodit menahan gejolak nafsu birahinya, dia menggumuli Anissa dan mencoba melepaskan kancing celana jeans tunangannya.

“A-aku ingin bercinta denganmu, say…” Bisik Dodit lirih di telinga Anissa.

Laki-laki muda yang sudah horny itu memeluk tubuh indah Anissa dan mengulum bibirnya dengan nafsu, kedua tangannya bergerak bebas meremas-remas gundukan indah buah dada Anissa. Anissa menggelengkan kepala, walaupun merasa panas dan siap bercinta, tapi Anissa tidak mau menyerah pada nafsu birahinya. Dengan sedikit memaksa, Anissa mendorong Dodit menjauh.

“Jangan mas. Aku mohon… sudah cukup, jangan melakukan sesuatu yang akan kita sesali nantinya… aku tidak bisa… aku mohon, kalau Mas Dodit benar-benar mencintaiku… Mas harus menghargai keputusanku untuk mempertahankan milikku yang berharga sampai pernikahan kita nanti…”

Dodit mundur sambil ngos-ngosan. Nafasnya tersengal dan tidak teratur. Dodit memandang ke arah Anissa dengan kesal.

“Kamu kecewa, mas?”

Dodit yang sedang merapikan bajunya terdiam membisu. Bagaimana dia harus menjawab pertanyaan Anissa itu? Jujur saja dia kecewa karena tidak bisa melampiaskan nafsu birahinya yang sedang memuncak, tapi di sisi lain, dia juga sangat bangga pada kekasihnya karena masih menjunjung tinggi nilai dan budaya timur yang kini sudah mulai luntur. Sangat jarang menemui gadis seperti Anissa.

“Kamu pasti kecewa ya, mas?” Anissa mengulangi pertanyaannya.

Dodit tersenyum dan mengelus rambut tunangannya yang panjang dan indah dengan mesra. “Kenapa harus kecewa? Aku bangga sama kamu, say. Di jaman sekarang ini, susah sekali menemukan gadis yang masih memandang penting keperawanan seperti kamu. Aku bangga dan merasa terhormat. Pernikahan kita sudah hampir tiba, jadi kenapa harus kecewa? Aku hanya perlu sabar dan menunggu sebentar lagi.”

Anissa tersenyum mendengar perkataan Dodit. Dia tidak tahu apakah Dodit berbohong untuk sekedar menenangkan dirinya atau benar-benar jujur, tapi Anissa yakin Dodit pria yang baik, dia bersedia menunggu sampai datang hari pernikahan mereka untuk bisa bersatu dengannya. Anissa tahu saat ini Dodit sudah sangat horny, tapi kemampuannya mengendalikan diri memang pantas diacungi jempol. Dia dengan bangga akan menyerahkan segalanya untuk Dodit di hari pernikahan mereka. Dia akan memberikan miliknya yang paling berharga, kegadisannya yang sudah dia jaga sejak kecil.

“Terima kasih, sayang.” Kata Anissa sambil lembut mengecup pipi Dodit.

“Kau tahu seandainya kau teruskan, aku tidak akan bisa menolakmu karena aku sangat mencintaimu, tapi aku ingin malam pertama kita benar-benar menjadi malam pertama yang sangat berharga.”

Dodit tersenyum dan balas mengecup pipi Anissa, dia kembali terdiam dan membisu. Dodit memutar kunci dan menghidupkan mesin mobil.



"Anissa Wibisono, cantik, seksi." Pak Bejo geleng-geleng kepala dengan takjub, pria tua cabul itu sedang asyik memotong rumput dan memperhatikan kegiatan Anissa, Opi dan Dodit yang sedang bermain-main di halaman rumah Hendra dan Alya. Gadis muda itu mengenakan celana jeans pendek dan kaos tipis yang bisa dibilang gagal menyembunyikan balon payudara pemiliknya yang sempurna, BH-nya yang berwarna merah jambu bisa terlihat dari kejauhan karena diterawang sinar matahari. Pak Bejo tersenyum sendiri saat menyaksikan buah dada Anissa melonjak-lonjak ketika sedang berlarian bersama Opi. Payudara sempurna itu mental ke atas dan ke bawah dengan mempesona, membuat pria tua itu meneteskan air liur mesum. Belum lagi menatap pantatnya yang hanya dibungkus celana jeans ketat yang ukurannya sangat mungil. Kakinya yang jenjang begitu mulus dan seputih pualam, ingin rasanya Pak Bejo mengelus paha indah milik Anissa. Tubuh yang indah, seperti apa ya kira-kira tubuh itu kalau telanjang? Pasti lebih menggiurkan lagi. Pasti segar rasanya menyetubuhi tubuh gadis muda seperti Anissa. Pak Bejo terkekeh, sebentar lagi gadis itu akan menikah, dia bertanya-tanya apakah Anis masih perawan atau tidak, mungkin perlu ditest dulu sebelum menikah. Pak Bejo terkekeh mesum. Mungkin sedang beruntung, tiba-tiba saja Anissa membungkukkan badan menghadap ke arah Pak Bejo ketika sedang bermain bersama Opi. Bagian atas kaosnya yang longgar memberikan kesempatan pada Pak Bejo untuk menikmati belahan dada gadis muda itu.

“Wah, wah, pagi-pagi sudah disuguhi susu Non Anis. Enak enak enak. Putih mulus, besar bulat, wah, pasti lezat sekali dijilati. Lihat ginian saja aku ngaceng, apalagi kalau pegang.” Pak Bejo mengecap lidah menatap keindahan belahan dada Anis yang bisa dilihat jelas olehnya.

Tiba-tiba saja Anissa berbalik dan kali ini Pak Bejo disuguhi keindahan bulat pantatnya yang juga sempurna. Bokong gadis itu begitu indah menopang kedua kaki jenjangnya, menyeruak ke atas seakan minta dielus seseorang.

“Kalau sampai tidak bisa menjejalkan kontolku ke dalam anus Anissa, namaku bukan Bejo Suharso! Akan kubelah memek dan anusnya sampai gadis itu tidak bisa lagi berdiri tegak!” Batin Pak Bejo sambil pelan mengelus kemaluannya yang kian membesar.

“Ayo semuanya, sarapan dulu!” Panggil Bu Bejo dari dalam rumah, menghancurkan lamunan suaminya yang cabul.

Anissa memperhatikan Alya yang masih duduk di samping ranjang Hendra dengan setia. Tidak mudah mengajak Mbak Alya pulang walaupun mungkin kakak iparnya itu sudah sangat kelelahan. Mbak Lidya dan suaminya sudah pulang dan Mbak Dina belum juga menunjukkan batang hidungnya sedari tadi. Harus ada seseorang yang menemani Mbak Alya seandainya dia butuh makan atau mengurus administrasi rumah sakit yang belum selesai. Anissa segera mendiskusikan masalah itu dengan Dodit dan Pak Bejo.

“Begini saja, non.” Usul Pak Bejo. “Karena Mbak Alya belum mau diajak pulang, sebaiknya salah satu dari saya atau Mas Dodit mengantar dulu Non Anis pulang karena hari sudah mulai gelap. Nanti kalau Mbak Alya sudah merasa capek dan ingin pulang, yang tinggal di sini bisa mengantar pulang setiap saat. Kalaupun Mbak Alya mau menginap di sini, lebih baik ada seseorang yang menemani.”

Anissa menganggukkan kepala, “Wah, kalau begitu biar Mas Dodit saja yang tinggal di sini, kalau-kalau nanti Mbak Alya mau cari makan atau mengurus surat-surat, Mas Dodit bisa lebih cepat membantu.”

“Saya juga tidak apa-apa kok, Mbak.” Kata Pak Bejo.

“Terima kasih, Pak, tapi sepertinya kami sudah terlalu banyak ngrepotin Pak Bejo.” Kata Dodit. “Kamu pulang dulu aja ya, say. Aku tinggal di sini sama Mbak Alya.”

Anissa mengangguk sementara Pak Bejo tersenyum malu-malu. “Wah, Mas Dodit ini bisa aja, saya gak merasa direpotkan kok Mas, kan keluarga Mas Hendra sudah saya anggap keluarga sendiri.”

“Iya sih, tapi siapa tahu Bu Bejo juga ada urusan yang gak bisa ditinggal? Kan kasihan anak-anak Pak Bejo kalau di rumah gak ada yang ngurus? Lagipula mobil yang dibawa Pak Bejo kan mobil pinjaman dari saudara, pokoknya, kami sekeluarga berterimakasih banyak sama Pak Bejo.” Kata Dodit lagi, sambil tersenyum dia mengambil dua lembar lima puluh ribuan berwarna biru dan memberikannya pada Pak Bejo saat bersalaman. “Ini Pak, buat beli rokok.”

“Lho? Mas Dodit gimana sih? Gak usah, mas. Beneran, gak usah!” Pak Bejo menggeleng kepala sambil berusaha mengembalikan uang Dodit, pria tua itu memang jagonya sandiwara, pura-pura nolak padahal pengen.

Pemuda baik hati itu tetap memaksa sambil memasukkan uang ke dalam saku baju Pak Bejo. “Cuma seadanya kok, Pak. Buat beli rokok atau ganti bensin nganterin Non Anis.”

“Iya, Pak. Gak apa-apa, diambil aja.” Rayu Anissa sambil tersenyum manis.

Pak Bejo yang pintar bersandiwara pun pura-pura luluh dan menerima uang pemberian Dodit. “Wah, sebenarnya saya melakukan ini semua tanpa pamrih apa-apa, Mas Dodit. Beneran. Keluarga saya sudah sangat sering ditolong Mas Hendra dan Mbak Alya, ini kesempatan saya untuk membalas kebaikan hati mereka. Terima kasih banyak ya, Mas Dodit. Non Anis.”

Dodit dan Anissa mengangguk dan tersenyum ramah. Setelah Anissa dan Dodit berbincang-bincang berdua, akhirnya mereka menemui Pak Bejo di teras rumah sakit.

“Ayo, Pak. Kita pulang sekarang.” Ajak Anis, gadis itu melambaikan tangan pada Dodit. “Aku pulang dulu ya, say. Titip Mbak Alya sama Mas Hendra.”

“Iya. Hati-hati di jalan.” Balas Dodit.

“Mari Mas Dodit, saya duluan.” Ujar Pak Bejo.

“Iya, Pak Bejo. Saya titip Anissa ya.”

“Pokoknya beres, Mas.” Pak Bejo menyeringai aneh sambil meninggalkan Dodit di tangga rumah sakit dan mengiringi kepergian Anissa menuju mobil.

Dodit menatap kepergian orang tua itu dengan perasaan yang tidak enak, tapi dia percaya penuh pada tetangga Mas Hendra itu karena Pak Bejo sekeluarga sudah seperti saudara sendiri. Kenapa orang tua itu menyeringai aneh? Dodit menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan masuk kembali ke gedung utama rumah sakit. Sementara itu, kemaluan Pak Bejo bergerak menegang karena gembira. Kesempatan berduaan dengan Anissa telah datang. Pantat bulat si cantik itu akan jadi miliknya. Anissa tidak sadar, ia kini sedang berada dalam ancaman hebat lelaki yang sudah memperkosa kakak iparnya. Anissa sudah berada dalam genggaman Pak Bejo Suharso. Mobil yang dikendarai Pak Bejo berkelak-kelok melalui jalan yang belum dikenal Anissa, karena memang belum mahir menyetir mobil, Anissa kurang begitu mengenal wilayah dan tidak hapal jalan-jalan kecil yang dilalui Pak Bejo. Tapi kali ini Pak Bejo melalui jalan yang tidak biasanya dilalui, berkelak-kelok melalui jalan sempit dan melewati daerah yang sepi hunian. Kendaraan yang berpapasan dengan mobil mereka bisa dihitung dengan jari. Rumah sakit tempat Mas Hendra dirawat dan rumah tempat tinggal Mbak Alya memang cukup jauh, tapi jalan yang dilalui Pak Bejo ini seakan-akan membuat perjalanan mereka pulang menjadi lebih jauh dan lama. Karena hari mulai gelap, Anissa memberanikan diri bertanya pada Pak Bejo.

“Pak, kita lewat jalan mana sih? Kok kayaknya malah jadi lebih jauh?” tanya Anissa.

“Oh, maaf. Saya belum menjelaskan ya? Kita mampir sebentar ke rumah adik saya, Non Anis. Kebetulan tadi dia sms katanya ada titipan untuk istri saya.”

“Oh gitu. Sms yang masuk saat kita keluar dari rumah sakit ya?”

“Iya. Nggak apa-apa kan, mampir sebentar?”

“Nggak apa-apa kok, tapi sebentar saja ya, Pak.”

“Iya.”

Walaupun jengkel karena tidak diberitahu sebelumnya kalau Pak Bejo akan mampir ke tempat lain, Anissa diam saja. Perjalanan berlanjut tanpa ada percakapan lagi, Anissa terus melirik ke arah jam tangannya karena walaupun hari semakin larut, tidak ada tanda-tanda mobil akan berhenti. Dan tiba-tiba saja mobil berhenti mendadak di tengah kawasan perbukitan yang dipenuhi pohon rindang dan amat sepi, mereka jauh dari jalan utama dan sudah cukup jauh untuk kembali ke rumah sakit. Anissa mulai khawatir, walaupun ia sangat percaya pada Pak Bejo tapi karena hari sudah gelap, Anissa mulai berpikiran macam-macam.

“Kok berhenti di sini, Pak? Pak Bejo yakin ini jalan pulang ke rumah Mbak Alya?” Anissa makin ragu.

Ada sesuatu yang ganjil pada kelakuan Pak Bejo sore ini dan makin lama kecurigaan Anissa makin besar, walaupun masih muda tapi Anis bukanlah gadis bodoh. Rute pulang yang tidak seperti biasa, alasan mampir di rumah saudara, berhenti mendadak di tengah jalan, situasinya makin aneh. Anissa memeluk dirinya sendiri yang menggigil dan mulai membayangkan hal yang tidak baik.

“Aduh, saya minta maaf, Non Anis. Tiba-tiba saja saya ingin buang air kecil, sebentar saja, ya non…” Rayu Pak Bejo.

Anissa tidak bisa melihat senyum licik tersungging di bibir Pak Bejo karena gelapnya malam. “Iya deh, tapi jangan lama-lama ya Pak, saya takut.” Anissa tersenyum, ia mencoba menenangkan dirinya sendiri dan meyakinkan bahwa Pak Bejo bukanlah orang jahat. Pria tua itu meninggalkan kursinya dan melangkah keluar mobil sambil menahan tawa iblisnya.

Anissa sedang menikmati lantunan lagu jazz lembut yang mengalun di radio ketika terdengar ketukan pelan di jendela mobilnya. Wajah Pak Bejo yang tiba-tiba muncul sontak membuat kaget. Lalu Anis memencet tombol membuka jendela.

“Ada apa, Pak?” tanya Anissa.

“A-anu, non… sepertinya saya kehilangan kunci mobil sewaktu buang air kecil tadi.”

“Aduuuh… Pak Bejo ini gimana sih?” Nada suara Anissa meninggi karena jengkel, tapi gadis itu segera memperbaiki nada suaranya agar Pak Bejo tidak marah. Mereka hanya berdua saja di tempat sepi ini dan hal terakhir yang diinginkan Anissa adalah membuat Pak Bejo marah. “Saya temani deh mencari kuncinya.”

Anissa melangkah keluar dari mobil, karena hari mulai gelap, ia menggunakan nyala HP-nya sebagai penerang sementara Pak Bejo menyiapkan lampu darurat bertenaga baterei yang ia ambil dari bagasi mobil. Karena sering memakainya, Pak Bejo sudah sangat hapal dengan mobil yang ia pinjam dari salah seorang sepupunya ini. Sementara itu, tanpa sepengetahuan Anissa, di suatu tempat di lokasi itu, Pak Bejo baru saja menggelar koran yang sudah ia bawa sedari tadi sebagai alas, tempat di mana nantinya Pak Bejo akan menikmati malam terindah bersama Anissa, tempat di mana Anissa akan kehilangan kegadisannya. Anissa mulai khawatir karena Pak Bejo menggiringnya makin masuk ke tengah pepohonan rindang dan sudah cukup jauh dari jalan utama. Gadis itu mulai merasa seakan-akan dia sedang memasuki satu jebakan.

Akhirnya Anis menyerah. “Saya telpon Mas Dodit aja deh, Pak… hari sudah terlalu malam, saya takut…”

Belum sempat Anissa melanjutkan kata-katanya, Pak Bejo dengan sigap menubruk gadis itu. Anissa menjerit ketakutan karena tiba-tiba disergap Pak Bejo yang bertubuh besar, ia ambruk ke tanah dan HP yang sedari tadi ia bawa terlempar jauh.

“PAK BEJO! APA-APAAN INI?!”

Anissa mencoba menyadarkan pria tua yang sudah lupa diri itu, tapi Pak Bejo sudah berubah menjadi setan dengan hawa nafsu tak terkendalikan. Bagaimanapun Anissa mencoba meronta dan melawan, Pak Bejo tetap tak bergeming. Dengusan nafas Pak Bejo yang berat membuat Anissa makin panik, ia tahu apa yang diinginkan Pak Bejo saat ini, ia tahu pasti dari dengusan nafas penuh nafsu itu.



“LEPASKAN SAYA!! LEPASKAAAAN!!”

Jeritan, pukulan, cengkraman, semua upaya silih berganti dilakukan oleh Anissa yang terus meronta dalam pelukan lelaki tua berotak mesum itu. Sayangnya Pak Bejo adalah seorang preman yang sangat kuat, semua perlawanan Anis malah membuat pria tua itu semakin terangsang, makin Anis melawan, makin ingin rasanya Pak Bejo menaklukkan si cantik ini. Setelah si jelita itu takluk nanti, Pak Bejo akan menidurinya tanpa ampun. Cukup lama dua sosok manusia itu bergumul di tanah. Pak Bejo yang mulai merasa jengkel akhirnya mengeluarkan pisau lipat dari dalam kantong celananya dengan susah payah dan menempelkannya di leher Anissa.

“Kalau begini terus, kita berdua yang akan rugi dan kelelahan, Non Anis.” Bisik Pak Bejo sambil menekan leher Anissa dengan pisau dan mengancamnya. Anissa yang menyadari adanya sebilah pisau yang siap menggorok lehernya akhirnya menghentikan semua aksi perlawanan.

Dengan senyum kemenangan dan terkekeh pelan, Pak Bejo mengelus pipi Anissa. “Sejak pertama kali kita bertemu, aku sudah ingin mencicipimu, gadis manis.”

“Dasar lelaki tua busuk! Bajingan! Laknat! Lepaskan aku sebelum…”

Jleb! Pak Bejo menancapkan pisau tepat di sebelah kepala Anissa dengan penuh kemarahan, gadis itu langsung lemas dan menggigil ketakutan. Mata Anissa mulai berkaca-kaca karena ia sadar bencana apa yang saat ini sedang mengancam dirinya.

“Jangan… jangan…” Rengek Anissa.

Pak Bejo kembali menarik pisaunya dari tanah dan menempelkannya ke leher Anissa. “Kamu sudah dewasa, sudah tahu permainan apa yang sedang kita mainkan saat ini. Aku tidak akan segan menyakitimu baik dengan pisau ini ataupun dengan tangan kosong seandainya kau berani melawanku. Lebih baik kita bekerja sama maka aku tidak akan menyakitimu, setuju?” Dengan sengaja Pak Bejo menekan pisaunya lebih dalam ke leher Anissa namun tidak sampai menyayat kulitnya yang putih mulus itu.

“I-Iya…” Lirih Anissa menjawab, karena ia sangat ketakutan. Air mata gadis itu mulai menetes.

“Cup cup, tidak perlu menangis, sayang. Aku janji tidak akan menyakitimu, semuanya pasti baik-baik saja dan menyenangkan. Kalau sampai tidak enak, jangan panggil aku Bejo. Heh heh heh…”

Dengan penuh percaya diri, Pak Bejo memeluk Anissa dan menempelkan kemaluannya yang sudah membesar ke paha sang gadis cantik. Tangan pria tua itu bergerilya menyusuri seluruh tubuh Anis, bergerak turun dari atas, mulai rambut, hidung, pipi, leher, hingga turun ke payudara.


“Kamu cantik sekali, sayang.” Bisik Pak Bejo di telinga Anis.


Anissa memejamkan mata ketika bibir hitam pria tua itu menelusuri leher dan pipinya, sentuhannya membuat bulu kuduk sang dara berdiri dan merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Belaian demi belaian Pak Bejo pun dilakukan, semua demi mencoba membuai angan Anissa yang masih dilanda shock dan ketakutan yang amat sangat. Tangan Pak Bejo dengan mahir membuat gadis itu rileks dan mulai pasrah pada tangan jahil sang pria tua. Nafas Anissa mulai berat, walau pasti tidak mau mengakui, tapi gadis itu pasti mulai terangsang. Kali ini Pak Bejo menarik tangan dan menjelajah masuk ke perut Anissa dari bagian bawah pakaian yang dikenakan dara cantik itu. Sentuhan lembut Pak Bejo mau tidak mau membuat Anissa merinding, pria tua itu bisa merasakan gelinjang tubuh Anis ketika tangannya bergerak ke atas menuju ke buah dada sang dara yang ranum. Gadis itu menatap Pak Bejo dengan mulut terbuka kecil dan mata yang menerawang entah ke mana. Mengetahui Anissa sudah mulai terangsang, Pak Bejo memberanikan diri menyingkap baju dan BH gadis muda itu. Sekejap saja, gundukan payudara sentosa sang dara menyambut dinginnya malam dan siap dinikmati oleh sang pria tua. Pak Bejo mengusap dan meremas payudara Anis, membuat gadis itu menjerit lirih karena tak kuat menahan nafsu.

“Ouuughhh…” Desah Anissa lirih ketika puting susunya dipermainkan lidah Pak Bejo.

Kecupan demi kecupan membuat Anissa yang masih minim pengalaman bercinta menjadi merem melek menahan diri agar tidak terangsang.

“Aheemm… haaahhh… ahhh…” Erangan sensual Anissa terdengar sangat erotis bagi Pak Bejo. Ia menggigit puting payudara gadis itu dengan gigitan kecil dan meninggalkan cupang di balon buah dadanya.

Kepasrahan Anissa membuat Pak Bejo dengan bebas melucuti satu demi satu pakaian yang dikenakan gadis itu. Sesuai dengan namanya, Pak Bejo adalah orang yang ‘bejo’ atau beruntung. Ia menjadi orang pertama yang menikmati keindahan utuh tubuh seksi sang gadis muda rupawan ini. Akhirnya kedua sosok berlainan jenis itu bertelanjang bulat.

“Benar-benar bidadari turun dari langit.”

Walaupun hanya diterangi oleh lampu darurat, tapi setiap lekuk keindahan tubuh Anissa bisa terlihat jelas oleh Pak Bejo. Pria tua itu menundukkan kepala dan mendekatkan bibirnya ke bibir Anis. dengan satu sapuan, bibir mereka saling bersentuhan. Bibir mungil yang ranum, basah dan sensual. Dengan penuh nafsu, Pak Bejo melumat bibir Anis. Pak Bejo memaksakan lidahnya masuk ke mulut Anissa, sementara tangannya menarik tangan Anis dan memaksanya memegang kemaluan Pak Bejo yang sudah mengeras seperti batang kayu. Gadis polos itu hanya diam saja dan menurut perintah Pak Bejo, ia sangat takut pada pria tua yang nekat itu. Tiba-tiba saja Pak Bejo berdiri, setelah berdiri tegak di hadapan Anissa, Pak Bejo menjambak rambut indah Anis supaya bangkit dari posisi berbaring dan dengan kasar pria tua itu mendorong kepala Anissa ke depan selangkangannya supaya wajah dara itu bisa mendekat ke arah penisnya, Anissa meronta dan menolak, tapi Pak Bejo mengunci tubuhnya dengan erat sehingga sang dara tidak bisa bergerak banyak. Anissa masih terus meronta hendak melawan ketika akhirnya, PLAKK!! Satu tamparan mendarat di pipi mulusnya. Tamparan itu begitu keras sehingga pipinya memerah dan air matanya meleleh seketika, Anis tidak mengira Pak Bejo akan menyakitinya setelah beberapa saat memperlakukannya dengan lembut.

“Kalau tidak mau mati kuperkosa sebaiknya kamu berlutut sekarang juga dan melayani apa mauku!” Kata Pak Bejo tegas.

Kata-kata pria tua itu diucapkan pelan namun sangat menakutkan hati Anissa karena penuh ancaman. Mata gadis itu berlinang air mata dan tubuhnya merinding karena tidak tahu harus berbuat apa. Melihat Anissa kebingungan, Pak Bejo malah terangsang, akhirnya penis Pak Bejo berdiri tegak tepat di hadapan sang dara, ukurannya yang besar mengagetkan Anissa.

“Berlutut, kulum kontolku.” Perintah Pak Bejo pada gadis yang sedang ketakutan itu.

Walaupun masih perawan, tapi Anissa sudah pernah menyepong penis Dodit, itupun karena Anissa yakin Dodit adalah pria yang kelak akan menikahinya sehingga Anissa mau melayani sang kekasih beroral-seks. Dodit yang baik juga menahan diri dengan tidak melanjutkan petting dan foreplay mereka sampai ke tahap penetrasi. Satu-satunya penis milik seorang laki-laki yang pernah dilihat oleh Anissa adalah milik Dodit, tapi kini dia menatap satu kontol besar yang ukurannya melebihi milik sang kekasih, perasaannya bercampur antara kalut dan takjub. Tangan Pak Bejo yang sudah tak sabar membimbing Anissa menggenggam kemaluannya.

“Ampuuun… jangan paksa saya, pak… jangan… ter-terlalu besar…” Rengek Anissa tanpa dihiraukan oleh Pak Bejo.

Tangannya yang halus tanpa cacat menggenggam batang kemaluan sang pria tua dengan ragu-ragu. Setelah menunggu lama tanpa ada reaksi dari Anissa, dengan jengkel Pak Bejo menampar lagi pipi Anissa yang tadi sudah memerah. Pria itu memang sangat kasar dan memuakkan, dia semena-mena menyakiti gadis muda yang tak berdaya. Anissa jatuh terjerembab karena tamparan Pak Bejo, wajahnya pun kian sembab membiru karena terus dihajar.

“Sudah ditampar masih berani melawan! Kalau tidak mau kubunuh sebaiknya cepat kau kulum kontolku!!”

Tangis Anissa makin menjadi, dia meringkuk di bawah dan tidak mau berdiri, tapi setelah Pak Bejo mengancam dengan mengangkat tangannya, Anissa buru-buru berlutut dan meraih kembali penis Pak Bejo yang tadi ia lepaskan dan meletakkan batang kontol itu tepat di depan mulutnya. Anis masih ragu-ragu hendak menyepong kemaluan Pak Bejo.

“CEPAT!” Kembali Pak Bejo membentak.

Dengan nakal pria tua itu mendorong pinggulnya ke depan sehingga kemaluannya berulang kali menyentuh wajah Anissa. Gadis muda yang cantik itu terpaksa menahan tangis dan membuka mulut dengan berat hati. Pak Bejo tertawa-tawa dengan sadis sambil menyorongkan kemaluannya pada gadis jelita itu.

“Nah… begitu… baru… anak… baik…” Kata-kata Pak Bejo terpatah-patah karena merasakan enaknya disepong gadis secantik Anissa. Mulut Anis yang mungil menerima sodokan demi sodokan kemaluan Pak Bejo. Dengan lembut Pak Bejo mengelus-elus rambut Anissa.

“Jilati batangnya… anak manis…” Kata sang pria bejat sembari menahan kepala Anissa dan menarik penisnya dari mulut gadis itu. Walaupun malu dan ragu, Anissa terpaksa membiarkan lidahnya menari di batang kemaluan Pak Bejo. Beberapa saat kemudian, kembali Pak Bejo menahan kepala Anis dan memasukkan ujung gundulnya ke mulutnya. Sedikit demi sedikit Anissa mulai diajari cara menyepong oleh pria bejat itu, beberapa kali Anissa tersedak ketika penis Pak Bejo menyodok hingga ujung. Pria tua itu hanya tertawa melihat penderitaan Anissa.

“Sudah ya, Pak? Saya sudah capek… saya mohon… kasihan …” Pinta Anissa memohon ampun. Air matanya deras mengalir, tapi Pak Bejo menatapnya galak. Dengan kasar dijambaknya rambut Anis sehingga mereka saling bertatapan.

“Aku yang bilang kapan harus berhenti.” Geram sang pria tua mengancam Anissa, ia mengambil kembali pisau lipatnya yang tadi ia simpan di dalam saku baju. Gadis cantik itu menggigil ketakutan dan mengangguk pasrah.

“Sekarang, berbaringlah menghadap ke bawah.” Perintah Pak Bejo sambil memasukkan kembali pisau lipat yang ia gunakan untuk mengancam Anis kembali ke saku.

Dengan hati-hati Anissa berbaring, walaupun sudah beralaskan kertas koran, berbaring di atas rumput di alam bebas membuat tubuh Anissa menggigil kedinginan, apalagi dengan posisi menelungkup. Dengan berani Pak Bejo mengangkangi tubuh Anissa, kakinya yang besar dan penuh bulu mengempit sisi kanan kiri paha Anissa. Lalu tangan pria tua itupun mulai bergerilya dan meraba tubuh si cantik, perlahan sekali ia menikmati setiap jengkal tubuh telanjang Anissa yang memang sangat seksi. Gadis itu terhenyak ketika merasakan tangan jahil Pak Bejo masuk ke sisi bawah lengan dan meremas payudaranya yang empuk.

“Pak Bejo! Sudah Pak! Jangan diteruskan! Aku mohon…!”

Pria tua itu hanya tertawa dan menarik tangannya dari payudara Anissa, tapi ia tidak berhenti begitu saja, Pak Bejo beralih ke kaki jenjang si jelita dan mengelus-elusnya penuh nafsu birahi. Makin lama tangan Pak Bejo makin naik, dari betis ke paha. Anissa berusaha menutup kaki agar Pak Bejo tidak bisa dengan mudah meraba bagian dalam pahanya, tapi pria itu lebih kuat dan membuka lebar-lebar paha Anissa. Elusan tangan Pak Bejo makin lama makin naik ke atas ke arah selangkangan Anissa sampai akhirnya dengan nekat pria tua itu menyentuh bibir vagina sang dara. Anissa menjerit tertahan, merasakan sentuhan tangan pria yang lebih pantas menjadi ayah atau kakeknya itu meraba-raba bagian tubuhnya yang paling sensitif. Pak Bejo menangkupkan tangan di atas memek Anissa.

“Jangan!” Keluh Anissa tanpa daya, ia berusaha meronta kembali, tapi Pak Bejo sudah siap, tubuhnya menubruk Anissa hingga gadis itu tak berdaya dalam pelukannya.

Terjebak di bawah tubuh pria tua berotak busuk seperti Pak Bejo, Anissa bagaikan seekor kijang muda yang takluk dalam sergapan seekor singa lapar. Gadis muda yang jelita itu harus memutar kepalanya ke kiri kanan hanya untuk bisa menarik nafas yang berat karena seluruh tubuhnya ditekan ke bawah. Anissa meneteskan air mata pasrah ketika merasakan tangan Pak Bejo beraksi dengan berani mengelus-elus bibir memek Anissa. Gadis itu mulai sesunggukan dan menangis tersedu-sedu, tapi Pak Bejo tak mau berhenti, tangan pria tua itu malah masuk ke dalam bibir memek Anissa dan merogohnya bagai kantong mainan.

“Hebaaat! Rapet banget! Siapa sangka? Tubuhnya seksi, wajahnya cantik seperti bintang sinetron, tapi memeknya masih rapet dan orisinil. Ini baru namanya perawan!” Pak Bejo menarik tangannya dari dalam memek Anissa. “Dengan tubuh indahmu itu, kamu pasti berharga mahal kalau mau jadi pelacur. Siapa tahu dapat langganan anggota DPR, mau?”

Anissa menjerit marah karena merasa dipermalukan, kembali ia meronta, tapi kali ini Pak Bejo melawan dengan mengeluarkan senjata andalannya. Pak Bejo menempelkan penisnya di antara selat dua bokong indah Anissa. Gadis itu menjejakkan kakinya dengan panik, ia tahu sebentar lagi pria tua busuk itu pasti hendak memperkosanya! Tubuh Pak Bejo terlalu berat dan kuat, Anissa tak bisa melawan kehendak sang pria tua yang sudah tertelan nafsu birahi liar. Kemaluan Pak Bejo yang besar dan tegang menyelip di antara paha mulus Anissa.


“Jangan, Pak… jangan…” Lemas suara Anissa memohon.

“Ssst… kamu menurut saja, ya manis. Pasti enak kok. Aku ingin jadi orang pertama yang merasakan lezatnya memekmu.” Jawab Pak Bejo tanpa belas kasihan.

Pak Bejo menggesek-gesekkan kemaluannya di celah bukit bokong Anissa, ia dibuat merem melek oleh pantat bulat seksi milik gadis muda itu. Untuk pertama kali dalam hidupnya, pantat Anissa menerima sentuhan langsung penis menegang milik seorang pria, sayang pria itu bukanlah calon suaminya. Gadis itu tersengal-sengal karena didorong maju mundur oleh Pak Bejo, ia sangat berharap Pak Bejo kelelahan dan mengurungkan niat memperkosa dirinya.

“Teruuuus… terussss…” Pak Bejo merem melek keenakan.

Setelah beberapa saat lamanya keenakan menggesekkan penis di belahan pantat Anis, Pak Bejo membalik tubuh gadis itu sehingga wajah mereka saling berhadapan. Pak Bejo mencium bibir mungil Anissa sementara tangannya bergerilya meremasi buah dada sang dara jelita. Tubuh gemuk besar Pak Bejo menindih tubuh mungil Anis di bawah langit malam terang, udara dingin berhembus menerpa kedua tubuh telanjang yang bermandikan keringat. Pak Bejo menarik puting payudara Anissa dengan gigi dan menggigitinya kecil-kecil, ia juga mencupang balon buah dada gadis itu hingga membekas merah. Ketika gadis itu lengah, Pak Bejo menempatkan kemaluannya di mulut vagina Anissa sebelum dara cantik itu sadar apa yang akan segera dilakukan oleh sang pria tua bejat. 

“Jangan Pak! Jangaaaaaaan!!!” Rengek Anissa mencoba menghalangi Pak Bejo mengambil miliknya yang sangat berharga dan tak tergantikan itu. Tapi Pak Bejo jauh lebih kuat dan nafsu birahinya sudah sampai ke ujung ubun, Anis tak berdaya dalam pelukan Pak Bejo. Rengekan mohon ampun dari Anis malah semakin membuat Pak Bejo bernafsu, ia menyiapkan penisnya untuk melakukan tugas yang paling menyenangkan, merenggut kegadisan Anissa. Pak Bejo bertanya-tanya dalam hati, benarkah gadis ini masih perawan? Hanya ada satu jalan untuk membuktikannya. Pak Bejo mengangkat tubuh dan melesakkan kemaluannya ke dalam memek Anissa dengan sekuat tenaga. Karena kerasnya usaha Pak Bejo, akhirnya bobol juga pertahanan terakhir Anissa. Pria pertama yang berhasil mencicipi madu kenikmatan dari kegadisannya bukanlah Dodit yang diharapkan menjadi suaminya, melainkan seorang pria tua bejat bernama Bejo Suharso.

“Jangaaan!! Kumohon, Pak Bejo! Sudah! Sudaaaah!!” Anissa meronta dan memukuli Pak Bejo sekuat tenaga, tapi mantan preman itu jauh lebih kuat daripada sang gadis muda. Karena jengkel, Pak Bejo menampar gadis itu di pipi kanan dan kiri. Saat itulah Anissa berhasil ditundukkan. 

Anissa mendengar lenguhan Pak Bejo yang mulai melesakkan penisnya pelan-pelan, “Duuuh… enaknya memek kamu, Non Anis. Rapet banget! Wah, beneran nih Non Anis masih perawan!”

Kemaluan Pak Bejo maju sedikit demi sedikit, Anissa memejamkan mata ketika merasakan ujung gundul penis pria tua itu mulai melesak masuk melewati bibir vaginanya. Anissa ingin menjerit tapi tenaganya sudah habis, batang kemaluan Pak Bejo masuk ke dalam liang rahim Anissa dengan lembut. Gadis jelita itu hanya bisa pasrah dan menangis sesunggukan tanpa daya.

“Jangan…” Bisik Anissa memohon ampun untuk yang terakhir kali sebelum Pak Bejo mengambil miliknya yang paling berharga. Calon pengantin itu mengerang ketakutan dan kesakitan namun tak berdaya, ia tak bisa mempertahankan diri dan gagal menahan serangan pria tua menjijikkan yang menginginkan kesuciannya ini. Jika Pak Bejo berhasil mendapatkan keperawanannya, maka Anissa akan kehilangan Dodit. Anissa tahu dia akan menjadi gadis kotor yang tidak lagi pantas menjadi istri kekasihnya itu. Pernikahan mereka terancam berantakan.

“Ahhhhhhhhh!!” Jerit Anissa setengah berteriak ketika seluruh batang kemaluan Pak Bejo berhasil menembus masuk ke dalam memeknya, selaput daranya berhasil disobek. Pak Bejo menikmati tiap detik kenikmatan memperawani Anissa.



“Wow, surprise! Non Anissa bener-bener masih perawan!” Teriak Pak Bejo sambil tertawa puas, ia bahagia menjadi orang pertama yang memasuki liang kewanitaan Anissa dan menembus selaput daranya.

Merasakan kenikmatan luar biasa menjadi pembobol keperawanan Anissa yang sebentar lagi akan menikah itu, Pak Bejo menyetubuhinya tanpa ampun. Ia menusukkan kemaluannya ke dalam vagina Anissa yang terbaring tak berdaya di bawahnya. Gadis itu tak henti menggigil sambil bergetar dan menangis sesunggukan. Pak Bejo menatap mata Anissa lekat-lekat dan tertawa terbahak.

“Nggak nyangka sama sekali, di jaman seperti sekarang masih ada cewek yang mempertahankan keperawanannya sebelum menikah. Tadinya saya pikir Non Anis sudah berkali-kali ditiduri Mas Dodit. Sayang sekali dia tidak berani melakukannya, tentunya sekarang Non Anis akan mengingat saya seumur hidup ya, cinta pertama memang tak akan terlupakan, ha ha ha.”


Anissa kembali menjerit-jerit karena tak rela dirinya diperawani pria sebejat Pak Bejo. Pria tua itu hanya tertawa terbahak melihat gadis itu mencoba meronta. Gerakannya malah justru membuat gairah birahi Pak Bejo melejit tak tertahan.

“Ahh… enakgh… enak sekali… ahhh memekmu top banget, Non Anis!” Kata pria tua sambil merendahkan martabat gadis yang tengah diperkosanya dengan mengeluar masukkan penisnya sekuat tenaga.

“Ohhhh… ampuuuun! Ampuuuun, pak! Sudaaaah! Cukuppp! Ahhhh! Ehhhmm…!!” Rintihan suara Anissa bercampur antara rasa sakit dan nikmat, sangat menyenangkan di telinga Pak Bejo yang terus menggenjot kemaluannya.

“Gadis cantik seperti kamu memang harus diperlakukan seperti ini… unghhh… enak banget memek kamu, Non Anis… ungh… ungh… ungh…” Pak Bejo merem melek merasakan sempitnya kemaluan gadis yang ada di pelukannya.

Anissa menyeringai menahan sakit ketika penis Pak Bejo berulang-ulang menjejal di dalam liang rahimnya, air mata Anis menetes tak tertahan. Pak Bejo tak kunjung usai, ia menarik paha si cantik dan menumbukkan kemaluannya sampai ke ujung leher rahim, sangat menyakitkan bagi Anissa yang baru pertama kali ini bersetubuh dengan seorang lelaki. Belum cukup rasa sakit ditimbulkan oleh Pak Bejo, pria tua menjijikkan itu juga meremas-remas payudara Anissa dengan ganas.

“Aduuuhh… sakit! Sakit! Ampuuun…” Rintih Anissa tanpa henti sementara Pak Bejo menyetubuhinya dengan berbagai macam gaya.



Pria tua itu tidak puas hanya dengan posisi misionaris biasa, ia menarik Anissa dan menyetubuhi dari belakang dengan gaya doggie-style. Berkali-kali Anissa merengek minta ampun ketika Pak Bejo menjambak rambutnya hingga wajah gadis itu mendongak menatap ke atas. Karena waktunya sempit, Pak Bejo tidak bisa terlalu banyak melakukan eksperimen posisi, tapi dia merasa puas merasakan memek Anissa yang masih sangat rapat hingga penisnya terasa sangat enak di dalam memek gadis itu. Tidak hanya asyik melesakkan penisnya keluar masuk memek Anissa, Pak Bejo juga menggigiti pundak dan menciumi leher gadis itu sementara tangannya asyik meremas-remas buah dada si cantik.

“Aduuuh! Aduuuh! Aku tidak tahaaan lagiiii!!” Erang Pak Bejo setengah berteriak.

Sesaat kemudian Anissa merasakan ujung gundul penis Pak Bejo seperti membengkak dan berdenyut di dalam liang kewanitaannya. Tiba-tiba saja terpancar cairan hangat yang keluar dari ujung penis Pak Bejo. Kemaluan Anissa dipenuhi oleh air mani pria tua bejat itu. Setelah hampir satu jam Pak Bejo menyetubuhi Anissa dengan kejam, diapun menyemprotkan air maninya di dalam liang rahim sang gadis manis yang sudah direnggut kesuciannya itu. Bukannya takut dilaporkan pihak yang berwajib karena telah memperkosa calon istri orang, Pak Bejo malah berharap ia bisa menghamili Anis. Pak Bejo tetap mendiamkan penisnya berada di dalam memek Anis untuk beberapa saat lamanya, sementara gadis itu terdiam tak berdaya di bawah pelukan sang pria tua. Setelah beberapa menit mereka beristirahat, Pak Bejo melepaskan penisnya dari dalam vagina Anis. Pak Bejo menangkup selangkangan Anis dengan nakal dan terkekeh menghina.



“Memang paling enak acara belah duren.”

Pak Bejo menggesekkan penisnya di dada ranum dan wajah cantik Anissa tanpa rasa dosa. “Dengarkan baik-baik, anak manis. Ada baiknya kejadian ini tidak kau sebarkan ke semua orang. Aku punya banyak kawan di luar sana, jadi seandainya kau lapor polisi atau membacot pada Mas Hendra, Mbak Alya atau Mas Dodit dan yang lainnya, siap-siap saja. Tidak hanya menyiksamu, aku juga akan meminta orang menghabisi Mas Doditmu yang tercinta itu! Paham?!”

Anissa hanya bisa mengangguk lemah tak berdaya.




Puas mempermalukan dan mengancam Anissa, dengan santai Pak Bejo membersihkan dirinya dengan tissue yang ia ambil dari saku kantong celana, ia melemparkan beberapa helai tissue pada Anissa yang masih sesunggukan dan meringkuk tak berdaya. Pak Bejo dengan senyum puas membersihkan penisnya yang belepotan air mani bercampur darah perawan Anissa. Ia puas sekali bisa mendapatkan seorang gadis yang cantik dan seksi apalagi masih perawan seperti Anissa, ia merasa jauh lebih muda setelah meneguk kenikmatan sejati seorang gadis perawan. Beberapa saat kemudian, mereka kembali ke mobil yang diparkir di tepi jalan. Sementara Pak Bejo merasa puas dan merokok di kursi depan, Anis menangis terisak-isak di kursi belakang. Tubuh gadis itu terasa berat dan lemas sampai-sampai ia tak mampu bergerak. Anissa tahu, pasti orang tua sinting ini akan mengulangi lagi perbuatannya kapanpun ia mau. Anissa tidak bisa melaporkannya ke pihak yang berwajib karena Pak Bejo adalah orang yang sangat kasar dan berani melakukan setiap ancamannya, ia takut Pak Bejo akan melukai dirinya, keluarga Mas Hendra atau bahkan Dodit. Anissa tidak mau itu terjadi, dia juga tidak ingin melapor ke polisi karena merasa malu sudah ternoda, seumur hidup Anissa ingin memberikan yang terbaik pada suaminya yang sah, ternyata, mendekati hari-hari pernikahannya, ia malah kehilangan kesuciannya karena diperkosa oleh seorang pria tua bajingan. Hampir dua jam kemudian baru mereka pulang. Ketika berpindah dari belakang ke kursi depan, Anissa berjalan dengan sedikit timpang, tentunya karena selangkangannya terasa sangat sakit. Pak Bejo terkekeh menatap nyeri yang dialami korbannya. Ia sangat puas menjadi orang pertama yang bisa meraih kenikmatan vagina Anissa.

Anissa terbangun dengan badan kaku dan linu. Matahari menembus ke dalam kamar dengan sinar tipis yang menyeruak melalui sela-sela kain gorden jendela dan lubang angin di atasnya. Gadis muda itu menguap, dia sangat kelelahan, seluruh tubuhnya terasa remuk. Ketika melirik ke arah jam dinding, Anissa baru sadar bila ternyata hari sudah siang. Kaca besar yang berada di meja rias menyadarkan Anissa. Wajahnya sembab dan membekas biru, kelopak matanya sayu dan berkantung tebal. Peristiwa semalam mengagetkan Anissa seperti kilat yang menyambar, semalam ia diperkosa, ia telah diperkosa, ia bukan perawan lagi, ia sudah kehilangan keperawanannya, tidak dengan suaminya, juga tidak dengan calon suaminya. Anissa menggeleng, ia tidak mau menerima kenyataan ini, ya ia tidak mau. Ini semua hanya mimpi, pasti hanya mimpi, pikir Anissa dalam bersedih. Buru-buru gadis itu menyibakkan selimut dan memeriksa bagian selangkangannya. Ada rasa gatal yang hangat di bagian lekuk selangkangan yang terasa aneh, Anissa meneteskan air mata lagi, ia tidak mau menerima kenyataan yang pahit ini. Ia tidak mau menerimanya. Detik demi detik yang berlalu semalam kembali terulang dalam benak Anissa, akhirnya ia sadar sepenuhnya. Semalam, ia telah ditiduri Pak Bejo. Ia telah diperkosa oleh orang yang lebih pantas menjadi orang tuanya itu. Anissa tidak bisa mempertahankan kegadisannya karena direnggut seorang lelaki hina. Dengan tubuh lemas lunglai, Anis berjalan tertatih menuju kamar mandi. Bagian selangkangannya terasa panas dan perih, ia duduk di toilet dan berusaha menerima pasrah semua kejadian semalam yang berulang di benaknya, bagaikan film yang diputar berkali-kali. Gadis itu berusaha tabah dan menahan diri agar tidak menangis, tapi air matanya tetap menetes membasahi pipi. Anissa duduk terdiam di toilet dengan pikiran yang melayang jauh. Entah apa yang sedang dilamunkan gadis malang itu. Ia tidak ingin berjumpa dengan siapapun saat ini, tidak juga dengan Dodit. Karena ia tahu, kisah penderitaannya belumlah usai, justru baru akan dimulai.


~ SELESAI ~
Share this article :